« June 2008 | Main | August 2008 »

..Tak Pernah Mudah Awalnya, Kuatkan Dia..

Airmataku sempat merebak sekitar tiga minggu lalu, entahlah...waktu itu perasaanku gundah sekali, as usual, hanya ingin menangis. Kala itu, (kebetulan) yang terlintas dalam kepalaku adalah "Den". Aku mengkhawatirkan kondisi sahabatku ini, tak sekalipun bisa terhubung dan bercakap-cakap. Seperti inginnya, komunikasi satu arah yang dia lakukan.

Tiga minggu lalu, aku memberinya offline messages lagi, sekadar memberinya dukungan. Siang ini, kudapatkan offline messages darinya (sepertinya dikirim kemarin, entah dari mana)...

[17:52] Den: NoN...
[17:52] Den: alhamdulillah sejauh ini keadaanku cukup baik...
[17:53] Den: terimakasih atas doamu... itu sangat aku butuhkan
[17:53] Den: lebih-lebih dalam minggu-minggu mendatang
[17:54] Den: maaf aku tidak cerita detil pada kamu...
[17:55] Den: yang jelas kondisiku sejauh ini stabil, tapi sakitku makin berkembang dan perlu tindakan invasif segera
[17:56] Den: insyaAllah pekan depan aku sudah mulai menjalani chemo di Jakarta...
[17:57] Den: dokterku memperkirakan 9 kali...
[17:58] Den: dengan kata lain, rentang waktunya hampir 7 bulan...atau doain aku kuat
[17:58] Den: dengan kata lain, rentang waktunya hampir 7 bulan...atau doain aku kuat
[17:58] Den: ya NoN...doain aku kuat...
[18:00] Den: oya, aku kena kanker kelenjar getah bening
[18:01] Den: pada saat pertama terdeteksi sekitar 3 bulan lalu, stadiumnya sudah stadium III
[18:02] Den: melihat perjalanannya, sekarang diperkirakan sudah stadium IV...
[18:03] Den: kategorinya sangat ganas...
[18:04] Den: secara medis, tidak ada cara lain kecuali kemoterapi...
[18:05] Den: alhamdulillah, seperti yang kamu bilang, banyak orang yang memberikan perhatian kepadaku
[18:06] Den: ini memberikan semangat dan kekuatan kepadaku untuk menjalani semua yang harus kujalani...
[18:06] Den: sekali lagi, aku mohon doamu NoN...
[18:06] Den: thanks...

 

Aku menghela napas panjang. Membayangkan kondisi Den sekarang. Mencari jawaban atas ketidaktahuanku ttg penyakit ganas itu. Aku menemukannya (thanx to search engine) dan menghela napas panjang lagi. Mencoba meresapi, membiarkan diriku merasa dalam kondisinya. Sakit tak cuma terasa di fisik, luruh semua keberdayaan yang ada selama ini.

Aku tahu, 'vonis' itu tak akan pernah mudah awalnya. Siapa pun yang menghadapi, pasti akan shock, lantas merasa tak berdaya, tak cukup kuat untuk berharap, karena...memang berat. Tapi, kita kan cuma manusia, tentu tak bisa menolak kehendak Yang Kuasa. Bagaimana pun keadaannya, harus tetap berusaha, berdoa, dan pasrah padaNya. Aku ingat, rocker kawakan, Gito Rollies, diambilNya karena penyakit ini. Ketabahan dan keikhlasannya, semoga menginspirasi Den.

Aku tahu, pasti berat Den...Awal sudah berlalu, kini, harus lebih kuat. Terapi apa pun yang bisa diupayakan, lakukan saja. Lagi-lagi, aku tahu ini berat. Terapi untuk kanker memang tak pernah mudah. Semoga Allah memberikan yang terbaik untuk Den (amin).

                            

..When I Open My Eyes..

Pernahku merasa sangat rapuh di masa lalu. Tak cukup memiliki kekuatan untuk menatap dunia. Aku merasa begitu kecil dan tak berarti apa-apa untuk sekitarku. Hahaha...boleh saja kalian semua tertawa, tapi sungguh, aku pernah merasakannya.

Saat di mana aku mengalami abusement dalam hidupku, sepanjang sisa masa SD-ku di kota kecil. Kesakitan dalam hati dan tak mampu berpikir panjang. Aku hanya tahu bahwa aku tersiksa, hanya ingin lari, lari, dan lari! Sayangku tak ingin kecewakan bunda, memilih bertahan dan memendam gelisah juga amarah.

Sekilas mengingat, sakit itu masih ada. Sakit yang tercipta karena tak bisaku bersandar, mengais kekuatan dari orang yang seharusnya bisa kuandalkan. Dan, justru karenanya lah aku tersiksa, hingga tak mampuku menatap dunia yang luas tak berbatas.

Kepalaku (sedikit) kembali terangkat ketika kutemukan seseorang di masa SMP. Aku tak mengerti, kenapa ia memilihku. Aku bukan adik kelas yang menonjol. Pinter, nggak juga. Cantik, nyatanya biasa aja. Lha,ngapain dia pilih aku menjadi bagian dari timnya? Kutanyakan itu padanya di sebuah kesempatan, ternyata jawaban "nepotisme"-lah yang kudapatkan. Kami sama-sama dari SD 'itu'.

Tak peduliku dengan alasannya, aku gembira karena menjadi adik kelas yang terpilih. Bukan masalah gengsi, tapi sejak itulah harga diriku mulai tumbuh. Menjadi bagian dari timnya membuatku lebih percaya diri. Pikiranku mulai terbuka, dunia ini begitu luas ternyata. Aku jadi bersemangat menggali apa yang sebenarnya kumiliki. Terlebih lagi, orangtuaku sangat mendukung. Ah...senangnya!

Selain itu, aku jadi punya alasan 'kabur' dan 'ngilang' dari rumah, meredakan kesakitanku pada si pemberi siksa itu. Lil' bit helps, it works! Aku bangga, setidaknya aku melarikan emosi negatifku pada sesuatu yang bermanfaat.

Hehehe...aku yakin, seseorang itu pun nggak tahu, kalau 'ketidaksengajaannya' memilihku memberi dampak sangat positif padaku. Apalagi, seiring dengan berjalannya waktu, dia sering berada di sampingku. Memberiku kekuatan, membiarkanku bersandar tiap kali aku membutuhkan pundaknya, membuatku nyaman dengan segala perlakuannya. Dengan sukses, dia memberiku arti hadir seorang kakak yang selama itu tak kumiliki. Aku mengandalkannya dalam banyak hal (hmmm...kecuali ngerjain Pe eR kayaknya, hehehe...).

Mungkin, hanya aku dan dia yang tahu arti kedekatan kami selama beberapa tahun. Dia tahu persis apa yang kualami dalam hidupku sepanjang bersamanya, pun aku padanya. Ia pun tahu betapa aku tersiksa. Memang tidak menyembuhkan lara, tapi dialah yang pertama menghadirkan sosok seorang kakak padaku.

Bersamanya selama di SMP membuatku merasa aman, meskipun kadang juga dia hobi bikin kesel. Seharusnya, kami tetap dekat saat SMA, karena kembali dipertemukan di sekolah yang sama. Sayang, nyata tak berkata begitu. Dia 'konsen' ama pacarnya, aku pun 'konsen' ama pacarku. Kedekatan selama sekitar 4 tahun itu merenggang hingga ia pergi dari kota kecil kami.

Menuntut ilmu di kota lain, membuat kami terpisah. Tapi, hilang hanya sejenak, kami bertemu lagi. Cuma lewat telpon sih. Sedikit cerita pula yang bisa dibagi. Dia berubah. Mungkin pun aku begitu. Tapi, dia sungguh berubah, over 'konsen' sama pacarnya. Ya, sudah. Hilang pun tak bisa apa-apa.

Beberapa waktu lalu, dunia maya mempertemukanku kembali dengannya. Tak dinyana, banyak yang berubah darinya. Banyak cerita terlontar, tapi belum sekalipun kami bertemu kembali. Entah seperti apa dia sekarang. Bagaimanapun dia, hanya "terimakasih" yang ingin kukatakan padanya. Kamu tahu Bank? Tatapanku pada dunia bermula dari keberhasilanmu menuntunku. Unforgetten. When will i see you again? Let's see... ^^

dedicated to someone from the past, "thanx".

..Arti Namaku yang Lain..

Malam ini, entah mengapa, seseorang dari masa lalu mencoba membeberkan arti namaku. Ini berbeda dari arti namaku dalam 'kamus' nama-nama bayi yang digunakan orangtuaku saat memberiku nama.

Dia bilang: "Kalau benar berarti datangnya dari Allah, kalau salah berarti dari aku." But, whatever he said, satu yang pasti...bagiku, nama itu bukan sekadar kata untuk mempermudah orang lain memanggil dan mengenali kita. Nama itu kenangan, cerminan, dan harapan. Here we go...

..Bianda..

(Dalam 'kamus' berarti: 'Putih' dan jujur)

Kata dia: Nama ini jarang digunakan dlm islam, termasuk kosakata modern. Bianda menunjukkan suatu ketegasan dg sedikit keangkuhan, kesombongan, keras, dan mudah kecewa. Namun, hatinya teramat lembut, di mana kelembutannya seringkali tak tersampai lewat kata maupun sikap.

..Nadia..

(Dalam 'kamus' berarti: Harapan)

Kata dia: Nama ini gambaran wanita modern dg sgl pemikirannya. Cenderung punya sikap, tegas, idealis, namun tetap bijak krn mampu membawa dan menempatkan diri. Cenderung disegani, mudah bergaul, dan mudah dikenang.

..Annisa..

(Dalam 'kamus' berarti: Perempuan)

Kata dia: Ini nama wanita muslim yg terkenal sholeha bgt. Jd harapan ortu tuh kamu bisa jadi seperti itu. Mengerti ttg agama dan bisa berguna bagi agama. Secara sifat, Annisa adalah seorg wanita sesungguhnya. Wanita yg mengerti kodratnya. Wanita yg sabar dlm hal tertentu (cinta dan harapannya), setia, dan apa yg tlah jd pilihannya akan dipertanggung jwbkn dgn teramat baik.

Then...

What should i say?

W O W...

Ehem...sebagian memang kurasakan, tapi ada juga yang mungkin jadi harapanku di masa depan. Bismillah deh...

..Tak akan Lekang..

Dag...dig...dug...

Kali ini yang berdetak bukan lagi purple watch di mejaku, tapi jantungku. Sungguh, ini cukup mengganggu. Aku tak mengerti mau berbuat apa. Pikiranku melayang pada sebuah pesan yang kuterima hampir seminggu lalu. Ya, pesan offline dari "Den".

[03:58] Den: waalaikumussalam...
[03:58] Den: maaf beribu maaf NoN... aku gak balas sms mu
[03:59] Den: juga YM mu baru bisa aku reply...
[04:00] Den: sekali lagi mohon maaf...panjang ceritanya
[04:00] Den: nomormu masih aku simpan...
[04:01] Den: sedang aku, lagi tidak punya nomor...
[04:02] Den: absurd...tapi itulah, dua bulan ini aku mencoba komunikasi satu arah dengan rekan dan teman-teman...
[04:02] Den: bukan aku tidak mau dihubungi...tapi kondisiku yang kurang memungkinkan
[04:03] Den: sejak dua bulan terakhir aku sakit...
[04:03] Den: sakit sangat serius...
[04:04] Den: karena itu aku mencoba konsentrasi untuk mendapatkan kekuatan dan kesabaran dalam menjalani sakitku ini...
[04:05] Den: rasanya sangat bersalah sama kamu NoN, karena tidak bercerita tentang cobaan sakit yang tengah aku alami...
[04:06] Den: tolonglah kamu fahami
[04:06] Den: pada saatnya aku akan menghubungi kamu dan menceriterakan semuanya....semuanya
[04:08] Den: paling tidak, sekarang kamu tahu aku sedang mendapat cobaan sakit yang sangat serius...
[04:09] Den: dan yang aku butuhkan dan mohonkan dari kamu adalah doa yang ikhlas, agar aku bisa sabar dan tabah menjalani cobaan ini...
[04:09] Den: itu saja NoN...
[04:10] Den: salam buat Bapak, Ibu, dan adik-adik...
[04:10] Den: terimakasih...wassalam

Pesan offline ini kubaca setelah minggu lalu aku tak berhasil menghubunginya. Beberapa kali dua nomornya tak bisa kuhubungi, sms tidak, telpon apalagi (akhirnya kukirimi ia offline messages). Komunikasi dua arah terakhir sekitar bulan Maret (setelah usiaku 23 tahun). Bulan Juni kucoba menghubunginya, sama sekali tak berespon, tak bisa. Ah, "Den"...

Dan...entah kapan tepatnya offline messages itu dikirim "Den" (tak ada tanggal dalam offline messages di meebo). Sudah cukup lama aku tidak mengaktifkan messengerku. Aku menyesal membacanya, tenggorokanku tercekat. Mood-ku drop seketika. Ingin sekali menangis, andai aku tak ingat bahwa aku sedang di kantor.

Beribu tanya menggelayut dalam benakku. Mungkin dibubuhi sedikit kekecewaan. Tapi, aku berusaha untuk mengerti kondisinya. Aku percaya, jika memang ada masanya, dia pasti akan bercerita. Kalau pun tidak, aku tetap akan selalu berdoa untuknya. Aku juga ingin ia selalu tahu, bahwa persahabatanku dengannya, tak akan lekang dimakan waktu.

Ya Allah...lindungilah "Den". Beri dia kekuatan menjalani cobaanMu. Sejenak saja, beri dia kesempatan untuk rasakan bahagia bersama orang-orang yang dikasihinya. Amin...(ya, hanya selarik doa yang bisa kupanjatkan).

..Satu Masa pada Beda Usia..

Tak...tik...tuk...Tak...tik...tuk...

Bunyi itu terus berulang, jarum detik purple watch di mejaku terus bergeser. Aku berusaha mempertahankan konsenterasiku mencari gambar. Satu detk...dua detik...satu menit...dua menit...HWAAAAAAA!!! Tidak untuk selanjutnya. Sebuah foto di mejaku mencuri perhatian. Mungkin juga pikiranku memang sedang melayang ke sana sejak tadi.

Foto itu...aku bersama beberapa rekan dari media-media di Surabaya (ditambah para tutor dari sebuah PR media). Ingatanku melayang pada kejadian lebih dari setahun yang lalu. Aku mengenal "Den" dari sebuah acara pelatihan jurnalistik. Dia tutorku. Segudang pengalaman di dunia media ada dalam kantuong-kantong kehidupannya (kurasa CV-nya terlalu panjang, hehehe...).

Dua hari pelatihan tidak membuatku mengenalnya, sama sekali. Cuma tahu nama, itu saja. Entah kenapa, di hari terakhir para tutor di Surabaya, ia menghubungiku. "Den" dan teman2 Jakartanya itu mau menikmati Surabaya sebelum esok pagi kembali ke ibukota. Bertanya padaku, "Kalau kami mau makan A, enaknya di mana? Kalau kami mau jalan-jalan, enaknya di mana?" (logat Timur "Den" terdengar sangat kental). Aku menjawab apa yang kuanggap MOST WANTED PLACE di Surabaya, lantas kemudian menawarkan diri untuk mengantar (ucapan terimakasih krn pelatihan 2 hari itu membuatku berilmu dan terhibur). Ia setuju.

Sejak itulah aku mengenal "Den" lebih dekat. Pria yang berusia hampir separuh baya itu ternyata orang yang menyenangkan. Dia tidak setua usianya, tapi juga tak lantas jadi sok muda. Fleksibel lah...Banyak pengalaman yang ia ceritakan dan membuatku jadi 'kaya'. Tak seperti kebanyakan orangtua, ia tak membiarkan aku diam dan hanya mendengarkan. So, aku pun bercerita. Ya, kami semua yg ikut ngopi di Kya-Kya bertukar cerita.

Hari-hari berikutnya, kami berkomunikasi melalui media yang ada. Ponsel dan internet tentunya. Aku menyadari, kami makin dekat, saling memosisikan diri sebagai sahabat. Masalah apa yang sedang terlintas kerap kami bahas dengan gaya berpikir masing-masing (ada gap pemikiran tentunya, mengingat selisih usia kami. usianya dua kali usiaku). Lebih sering kami mengupas habis masalah kerjaan, mungkin karena ini tema paling nyambung antara aku dan "Den". Tapi, kami open minded kok! Bisa saling menerima dan mengkritik pemikiran satu sama lain.

Beberapa kali kami sempat bertemu lagi. Dalam situasi berbeda dan rekan yang berbeda. Tetap menyenangkan. Kurasa karena kami membawa pribadi yang sesungguhnya, bukan kepura-puraan. Sungguh, aku sangat menghargai persahabatan yang kami punya.

Walau aku sadar, tak jarang orang akan mengernyitkan dahinya ketika mengetahui bahwa persahabatan kami sedikit mengkhayal. Lagi-lagi krn melihat usiaku yang separuh usianya. Kalau kami jalan, aku ini seperti anaknya. Pandangan umum pasti akan menyudutkan. Tapi, aku tidak terlalu peduli. Aku lebih menghargai apa yang kami miliki. Toh nyatanya memang tidak ada hal buruk (pun pengaruh buruk) dalam persahabatan ini, kenapa aku harus bingung dengan "kata" orang?

Aku selalu berprinsip bahwa ketika kita melakukan hal baik, kita nggak boleh takut. Judgement atau prejudice orang lain kan belum tentu sesuai ama yang sebenarnya terjadi. Jadi, kita nggak boleh takut ama judgement atau prejudice. Selama kita nggak aneh2, nggak macem2, Allah pasti bakal lebih berpihak ama kita. (to be continued)

..Amnesia dalam Mimpi?..

Aku tak mengerti, mimpiku kemarin sungguh membekas. Bukan mimpi yang mengerikan atau mencekat nafasku. Hanya saja, aku benar-benar tak mengerti, tak biasanya. Tokoh utamanya adalah aku. Ya, aku yang sekitar 5 sampai 10 tahun lebih tua dari usia sekarang. Setting yang sedikit oriental dengan dimensi waktu yang tak kutahu kapan tepatnya.

Berdiri dengan sandal gladiator, rambut dikuncir ke belakang dan pakaian yang cukup konvensional. Kupijakkan kaki di sebuah aula (lebih mirip kelenteng sebenarnya). Banyak orang menyambutku. Memelukku dengan hangat. Dan, aku hanya terdiam. Aku tak mengerti. "Ada apa ini?" (tanyaku dalam hati). Beberapa hari aku tinggal di rumah yang kata orang-orang memang rumahku (rumah ayah-ibuku tepatnya). Tak ada yang kuingat selam adi sana.

Aku hanya mengikuti rutinitas yang biasa dilakukan penghuni di rumah itu, termasuk memasak (yang tak pernah mahir kulakukan dalam nyata). Aku lebih banyak diam. Mereka yang mengenalku memang mengernyitkan dahi, terheran-heran. Katanya, aku bukan seorang yang pendiam sebelumnya. Ah, aku tak mengerti maksud mereka.

Hari-hariku terisi dengan 'bekerja' di dapur sembari berbincang dengan bibi tua, entah siapa namanya. Dia memanggilku "NoN". Kubiarkan saja, karena aku tak tahu siapa namaku yang sebenarnya. Aku cuma tahu, ada tiga kata yang merangkai namaku, Bianda+Nadia+Annisa (ya, ini namaku dalam nyata). Namun, dalam 'dunia' itu, aku tak mengerti maknanya.

Lambat laun, sekitar tiga bulan setelah aku tinggal, aku cukup bisa membaur di lingkungan yang seharusnya kusebut rumah itu. Aku sudah tahu, apa itu tertawa dan bagaimana caranya tertawa. Ada ayah, ibu, adik, kakak, juga bibi yang mengajariku. Aku senang. Aku bahagia.

Sampai suatu hari, seorang pria datang ke rumah. Ia bertubuh tinggi, kurus, dan wajahnya agak kotor (hmm...maksudnya, ada bulu-bulu halus di sekitar cambang dan janggutnya (tapi nggak sampe brewok gitu)). Jantungku berdetak kencang ketika ia datang, entah kenapa begitu.

Pria yang menurutku sebenarnya cukup menarik itu mendatangi ayah dan ibu. Aku tak tahu, apa maunya. Tapi, ia menoleh ke arahku. Memandangku lama, seperti ada yang berbinar dalam sorot matanya. Ayah dan ibu diam saja, atk berkomentar apa-apa. Aku pun diam. Untuk apa aku bicara?

Keesokan harinya, pria itu datang lagi. Ia membawa seorang gadis kecil yang cantik, mungkin sekitar empat sampai lima tahun usianya. Entah kenapa, rasanya aku ingin menangis melihat gadis kecil itu. Tak kulanjutkan melihatnya. Aku berlari ke kamar yang diberikan ayah-ibu untukku.

Dalam kamar, aku tercengang karena di bawah jendela kamar, pria itu tiba-tiba muncul. Dia berkata padaku, "Kau istriku, ini "Fella" anak kita. Kembalilah pada kami." HWAAAAA!!! Aku terkaget-kaget luar biasa. Aku berlari ke luar kamar, menemui ayah-ibu. Menangis sejadinya karena aku tak mengerti. Aku tak mengerti apa yang dibicarakan pria itu. Ayah-ibu ikut tercengang, mereka saling menatap dan berkata. "Beraninya dia!"

Aku makin tak mengerti. Apa yang sebenarnya terjadi padaku??? Aku bertanya-tanya, "Apa itu istri? Siapa pria dan gadis kecil tadi? Apa hubungannya denganku?". Aku tenggelam dalam ketakutan. Aku membayangkan yang tidak-tidak. Aku bingung. Sekuat tenaga aku mencari jawaban. Dan, aku menemukannya, bahwa: Istri merupakan sebutan seorang suami pada wanita yang dinikahinya.

"Jadi, aku pernah menikah dengan pria itu?" Ini pertanyaan berikutnya. Lalu, gadis kecil itu? Kucari lagi jawaban dalam benakku, bertanya sana-sini. Kutemukan lagi, bahwa: Suami-istri menikah, melakukan hubungan suami-istri, hamil, dan melahirkan seorang anak. HWAAAAAAA!!! "Aku dan pria itu melakukan hubungan suami-istri, lalu aku hamil, dan melahirkan seorang anak perempuan."

Pikiranku semakin tak karuan. Aku makin takut membayangkannya. Benarkah aku sudah menikah dan memiliki seorang anak? Berarti...rahimku ini pernah mengandung selama 9 bulan. Berarti...aku sudah pernah melewati bertaruh nyawa demi melahirkan Fella. Ya Tuhan...

Lelahku bertanya, keesokan harinya pria itu datang lagi. Tanpa Fella. Aku menghampirinya. Menuntut penjelasan sejelas-jelasnya. Aku tak mau larut dalam kebingunganku. Dia hanya mengatakan bahwa kami sudah menikah, beberapa tahun lalu. Kami tinggal di rumah yang sama, sedikit jauh dari rumahku sekarang. Sama-sama bekerja dan bergantian mengurus Fella. Kami bahagia (begitu kat apria yang mengakuiku sebagai istrinya). Suatu hari, aku menghilang, ia mencariku sekuat tenaga.

Di tengah ceritanya, tanpa ia sadari, aku melihat ke dalam matanya. Aku mencari kejujuran. Aku percaya padanya. Aku meyakini tiap katanya. Hanya saja, tanpa bukti, aku tak bisa menerimanya. Pun ayah-ibuku.

Ia datang lagi keesokan harinya, menggandeng Fella yang cantik dengan rambut diikat kanan-kiri. Ingin sekali aku memeluknya, tapi kuurungkan niatku. Pria itu menunjukkan sesuatu pada ayah-ibu. Aku ikut melihatnya. ternyata, ia menunjukkan buku nikah. Ada fotoku dan fotonya berjajar di sana. tertera namaku dan nama pria itu, Adrianto Nirogo.

Mimpiku berakhir gamang. Aku tak tahu apa maksudnya. Hanya saja, membekas hingga kuketikkan ceritanya.

..Aku dan Jakartaku..

Kupijakkan kaki di bandara Soekarno-Hatta pagi itu. Masih terlalu pagi bagiku yang biasa melewatkan indah dan sehatnya sinar matahari pagi. Jam 8 lebih dikit, di pertengahan bulan kisaran 2008. Bangunan luas dengan sentuhan arsitektur Prancis itu tampak lengang. Ah, bukan aku aja yang biasa bangun siang, hehehe...

Perutku kroncongan, sepertinya ususku sudah berkontraksi, menggelepar-gelepar seperti cacing kepanasan. Aku lapar. Berangkat terlalu pagi membuatku tak sempat membuat sarapan, selain segelas teh hijau yang kuseruput dengan tergesa. Kuputuskan singgah ke sebuah restoran fastfood dengan maskot kakek beruban dan berkacamata.

Kupesan paket nasi yang paling simple, aku malas cuci tangan pagi2, hehehe...Ternyata seporsi nasi di hadapanku tidak begitu enak untuk disantap. Kupaksa masuk tuh beberapa sendok, biar keganjel, meskipun dikit. Ndilalah malah perutku mulek2 nggak karuan. Tahan...tahan...harus sampai tujuan dulu baru boleh kenapa-napa niy perut! Kutinggalkan sisa paket nasiku dan bergegas menyetop DAMRI.

Ini kali kedua aku tak dijemput siapa-siapa di bandara. Seperti biasa, DAMRI akan berputar-putar mengelilingi bandara hingga penumpang memenuhi kuota kursi yang tersedia. Di putaran terakhir, mesin DAMRI yang kutumpangi bermasalah. O'ow...penumpang kecewa, padahal udah penuh tuh! Puluhan penumpang, termasuk aku, turun dan pindah ke DAMRI yang lain.

# 1 DAMRI bermasalah.

DAMRI sukses membawaku ke tujuan. Ya, tujuan yang notabene tak pernah kutahu di mana sebenarnya.  Dari sana, menurut primbon dari seseorang, aku harus naik mikrolet dua kali. Panas sudah mulai menyengat, bercampur asap knalpot yang tampak pekat (sepertinya emisi kendaraan bermotor di Jakarta tak terjamah UU lingkungan hidup, cieee...sok tau!).

# Polusi udara yang OUCH!

Sudahlah, lupakan tentang mikrolet. Aku lebih memilih lekas sampai di tempat aku bisa duduk dengan nyaman. Dengan penuh keberanian, aku menawar ojek yang berjajar-jajar di sudut perempatan. Saking parnonya, aku berpegang pada satu tarif yang dikatakan primbon. Eh, si tukang ojek pertama bilang..."Aduh Neng, kalau segitu mah berangkat sendiri aja!" (GUBRAK!).

# Culasnya Abang tukang ojek.

Akhirnya toh tetap kusepakati tarif di luar primbon. Setelah tiba di tempat tujuan, barulah kusadari kalau tukang ojek tadi membawaku berputar-putar. Ah jalanan di Jakarta kini sudah tak mampu disesuaikan dengan ingatan masa kecilku. Hiks...bodohnya, aku ditipu. Kebodohanku ini dipertegas oleh seorang teman yang kutemui di tempat tujuanku. "Jalannya deket kok bayar dua kali lipat?" (GLODAK!)

# Aku ditipu Abang tukang ojek.

Jakarta-ku dulu tak begini. Makin lama ternyata makin sangar aja. Tak kututup mata, memang banyak peluang dan tantangan untuk berkembang di sana. Namun, memutuskan kembali ke sana bukan hal yang mudah. Papa memang di sana, tapi hatiku di sini. Entahlah, mengapa kami tak terlalu melirikmu kini? Though, banyak sekali kenangan yang kupatri bersama orang-orang tersayang selama di sana.

Aku dan Jakartaku, akankah kita kembali bersahabat?